Langsung ke konten utama

Sejauh Mana Investor Asing Menguasai Negara Kita?

Saat ini di Indonesia investor asing menguasai hampir seluruh sumber daya alam di Indonesia. Hal ini bukan disebabkan karena sumber daya manusia yang kurang mampu mengelola sumber daya alam yang ada, tetapi hal ini disebabkan memang karena negara Indonesia kurang tercover dari kebijakan yang ada di dalam pemerintahan. Orang yang punya saham adalah yang berkuasa. Kalau sumber daya alam itu dikelola oleh pihak luar, maka akan ada teknisi yang mengatur. Misalnya diambil contoh Free Port, merupakan perusahaan asing terbesar yang menguasai sumber daya alam di Indonesia, pekerja yang disana adalah penduduk pribumi yang hanya bekerja sebagai buruh kasar sedangkan yang mengatur jalannya perusahaan adalah dari orang-orang asing, sedangkan hasilnya  dinikmati oleh asing. Ini jelas tidak adil karena upah yang diberikan tidak sesuai dengan hasil kerja. Upah buruh kasar hanya sepersepuluh dari upah pekerja asing. Melihat dari keadaan tersebut, bisa dilihat bahwa penguasaan asing terhadap sumber daya alam di Indonesia sudah sangat parah. Bahan-bahan mentah dieksplorasi di Negara Indonesia, sedangkan keuntungannya dinikmati oleh asing. Kalau diperluas, Indonesia hanya pemilik bahan mentah yang kemudian di gunakan oleh asing untuk membuat barang-barang industri yang brandingnya dimiliki oleh asing. Barang industri tersebut dikirim lagi ke Indonesia dengan harga yang berkali-kali lipat lebih besar. Itu berarti kelemahan Indonesia berada pada kemampuan mengelola sumber daya alam menjadi barang jadi.

Indonesia bisa mandiri tanpa adanya campur tangan dari pihak asing perihal sumber daya alampun juga tidak masalah asalkan memiliki pemimpin yang kuat. Buktinya Negara India dan Malaysia saja bisa menciptakan mesin-mesin canggih tanpa campur tangan asing.

Dosen fakultas peternakan Universitas Gadjah Mada, Ibu Siti Andarwati menuturkan, “Asal ada kemauan dari pembuat kebijakan, maka Negara Indonesia tidak membutuhkan investor asing untuk mengelola sumber daya alam yang tersedia.”

Pemerintah sendiri tidak memiliki kebijakan khusus seputar investor asing. Masalah tersebut biasanya diurus oleh pemerintah pusat. Menurut Ibu Siti Andarwati, Indonesia adalah negara yang menerapkan urban policy, yaitu kebijakan yang berpihak pada masyarakat kota. Penduduk kecil yang pekerjaannya jauh di bawah pemerintahan tidak mendapat keadilan yang sama dengan masyarakat kota.

Pada sektor pangan, Indonesia masih saja kesulitan padahal Indonesia adalah Negara agraris yang kaya akan sumber daya alam. Mayoritas penduduk Indonesia bercocok tanam dan nelayan, tetapi sebagian besar dari mereka masih kesulitan makan. Padahal bisa dilihat Negara Singapura yang notabene bukan Negara agraris saja bisa hidup makmur tanpa ada masalah kesulitan pangan separah Indonesia. Hal ini disebabkan karena perbedaan luas daerah dan jumlah penduduk antara Indonesia dan Singapura. Selain itu juga karena Negara Singapura melakukan ekspansi keluar sedangkan Indonesia adalah Negara penyedia bahan baku. Penyebab lain yang berasal dari dalam negeri adalah petani-petani Indonesia tidak memiliki motivasi untuk terus bercocok tanam karena harga jual produk pertanian dengan bibit pertanian tidak jauh berbeda. Jadi petani merasa dirugikan dengan kondisi tersebut, kemudian beralih profesi. Kalau kebijakan pemerintah bisa lebih berpihak pada petani Indonesia, mungkin petani-petani Indonesia akan terus bercocok tanam.

Hal-hal tersebut juga berkaitan erat dengan ketahanan pangan di Indonesia. “Jika kondisi seperti itu terus terjadi, maka ketahanan pangan di Indonesia bisa disebut ‘rawan’ dan Negara Indonesia tidak akan menjadi Negara yang kuat karena Negara yang kuat adalah Negara yang kebutuhan pangan dapat tercukupi”, tutur Ibu Siti Andarwati.

Jika kondisi degradasi pangan terus terjadi di Indonesia, maka kondisi masyarakatnya juga tidak akan stabil. Masalah degradasi pangan dapat diatasi dengan cara pengolahan konversi tanah pertanian yang subur dan insentif untuk petani atau peternak sebagai pemenuh kesejahteraan masyarakat.

(Dwiky, Tisa)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pilihan Menjadi Mahasiswa

Banyak istilah-istilah yang diberikan untuk menandai kebiasaan seorang mahasiswa. Mahasiswa kupu-kupu (Kuliah-Pulang) misalnya, atau kura-kura (Kuliah-Rapat). Apakah mahasiswa dengan IP 4,00 yang rajin keluar masuk perpustakaan, mahasiswa yang selalu terkantuk-kantuk di kelas, mahasiswa yang kuliah-pulang-kantin-tempat kost-kampung, mahasiswa yang selalu mengikuti rapat atau organisasi, mahasiswa yang hanya pamer gaya setiap kali ke kampus, atau tipe mahasiswa-mahasiswa lainnya. Sebenanya, apa sih tujuan utama kuliah? Mahasiswa merupakan maha pencari ilmu yang dituntut untuk mengabdi sekaligus mengaplikasikan ilmunya di lingkungan masyarakat. Perlu disadari bahwa tujuan kuliah bukan hanya untuk mencari pekerjaan ataupun mencari gelar, tetapi juga dituntut untuk lebih aktif dalam mengamalkan ilmunya ke kehidupan disekitarnya. Hal ini dikarenakan mahasiswa merupakan pengendali yang berperan aktif dalam menghidupkan kegiatan di lingkungan masyarakat. Berdasarkan tujuannya, sebagai mahasis...

Fluktuasi Harga Pangan Dalam Negeri, Salah Siapa?

Kondisi perekonomian Indonesia kembali mengalami ketidakstabilan. Harga-harga kebutuhan barang pokok yang selama ini menjadi komoditas penting dalam negeri kembali meroket. Hal ini menyebabkan akhir-akhir inimasyarakat sulit mendapatkan barang kebutuhan pokok khususnya tahu dan tempe yang merupakan komoditas pangan utama di Indonesia. Para produsen yang tidak ingin merugi karena menanggung biaya produksi yang tidak sedikitpun terpaksa menaikkan harga jual karena naiknya sumber bahan pokok yang dibutuhkan. Alhasil, fenomena inipun digunakan oleh pemerintah untuk mengimpor bahan-bahan pokok agar kebutuhan dalam negeri tetap terpenuhi. Kran impor besar-besaran yang dilakukan oleh pemerintah barangkali sudah menjadi “lagu lama” karena hal tersebut sudah dilakukan sejak era reformasi dimulai pada tahun 1998. Adanya impor tersebut sebenarnya memiliki sisi positif bagi kondisi perekonomian dalam negeri karena dapat membantu menstabilkan harga-harga barang pokok yang sebelumnya belum tercukupi...

Getaran Musik Koplo

Seiring dengan perkembangan Politik dan Budaya Bangsa Indonesia, Musik Melayu juga ikut berkembang seiring dengan perkembangan zaman. Irama melayu menjadi suatu aliran musik kontemporer, yaitu suatu cabang seni yang terpengaruh dampak modernisasi. Dekade 60’an Musik melayu mulai dipengaruhi oleh banyak unsur mulai dari gambus, degung, keroncong, langgam. Mulai jaman ini lah sebutan untuk Irama Melayu mulai berubah menjadi terkenal dengan Sebutan Musik Dangdut. Sebutan Dangdut ini merupakan Onomatope atau sebutan yang sesuai dengan bunyi suara bunyi, yaitu bunyi dari Bunyi alat musik Tabla atau yang biasa disebut Gendang. Karena bunyi gendang tersebut lebih didominasi dengan Bunyi Dang dan Dut, maka sejak itulah Irama Melayu berubah sebutanya menjadi suatu aliran Musik baru yang lebih terkenal dengan Irama Musik Dangdut. Dekade 60’an Musik melayu mulai dipengaruhi oleh banyak unsur mulai dari gambus, degung, keroncong, langgam. Mulai jaman ini lah sebutan untuk Irama ...